Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak
Rabu, 17 April 2024
Rabu, 20 Maret 2024
Kegiatan Pembinaan Persiapan Kehidupan Berkeluarga dan Triad Kesehatan Reproduksi Bagi Remaja
PEMBINAAN PERSIAPAN KEHIDUPAN BERKELUARGA DAN TRIAD KESEHATAN REPRODUKSI BAGI REMAJA | ||
Sejalan dengan pertumbuhan fisik yang pesat pada masa remaja, perkembangan emosional dan intelektual pun terjadi dengan pesat. Pertumbuhan ini turut memengaruhi bagaimana remaja mengkonsumsi makanan dan menjaga kesehatan dirinya. Remaja mengalami fase peningkatan kemampuan berpikir abstrak dan imajinasi, serta adanya kegalauan emosi dan keinginan untuk memperbaiki citra tubuh seperti teman sebayanya atau idolanya. Remaja perempuan seringkali melakukan diet ketat dan remaja laki-laki sering kali mengkonsumsi suplemen agar ototnya tumbuh seperti orang dewasa | ||
Masa remaja disebut pula sebagai masa social hunger (kehausan sosial) yang ditandai dengan adanya keinginan untuk bergaul dan diterima dilingkungan kelompok sebayanya (peer group). Penolakan dari peer group dapat menimbulkan frustasi dan menjadikan remaja merasa terisolasi dan rendah diri. Sebaliknya, apabila remaja dapat diterima oleh rekan sebayanya dan bahkan menjadi idola, ia akan merasa bangga dan memiliki kehormatan dalam dirinya. | ||
Permasalahan perilaku sosial remaja tidak hanya terjadi dengan kelompok sebayanya, tetapi juga dapat terjadi dengan orang tua dan orang dewasa lainnya, termasuk dengan guru di sekolah. Hal ini disebabkan oleh adanya keinginan yang ambivalen pada masa remaja, khususnya remaja awal. Disatu sisi remaja punya keinginan untuk melepaskan ketergantungan dan dapat menentukan pilihannya sendiri, sementara disisi lain, remaja masih membutuhkan orang tua, terutama dari segi ekonomi. | ||
Sejalan dengan pertumbuhan organ reproduksi, hubungan sosial yang dikembangkan pada masa remaja ditandai pula dengan adanya keinginan untuk menjalin hubungan khusus dengan lawan jenis. Jika tidak dibimbing dengan baik, hal ini dapat menjurus kepada penyimpangan perilaku sosial dan perilaku seksual. Apabila remaja pada umumnya memiliki keinginan untuk mencoba-coba dan menguji norma yang ada. Apabila tidak dibimbing, ada kemungkinan timbul konflik nilai dalam diri remaja maupun dengan lingkungannya. | ||
Masalah utama masa remaja adalah memecahkan krisis identitas dan kebingungan identitas (identity crisis vs identity confusion) untuk dapat menjadi orang dewasa unik dengan pemahaman diri yang utuh dan memahami peran nilai dalam masyarakat. Identitas terbentuk ketika remaja berhasil memecahkan tiga masalah utama, yaitu pilihan pekerjaan, adopsi nilai yang diyakini dan dijalani, serta perkembangan identitas seksual yang memuaskan. | ||
Tanggal 06 Maret 2024 bertempat di Ruang Pertemuan Kecamatan Prabumulih Timur, Dinas PPKBPPPA Kota Prabumulih melaksanakan kegiatan Program Pemberdayaan dan Peningkatan Keluarga Sejahtera melalui Pembinaan Ketahanan dan Kesejahteraan Keluarga berupa Penyuluhan tentang Peran Remaja dalam mencegah Penyalahgunaan Narkoba, Gizi Bagi Remaja dalam Upaya Pencegahan Stunting, Kesehatan Reproduksi dan Pencegahan Pernikahan Dini serta Kelembagaan PIK Remaja, Genre dan Bina Keluarga Remaja yang diikuti oleh 40 (empat puluh) orang remaja calon pengantin. | ||
Diharapkan dengan adanya kegiatan ini, peserta memiliki pengetahuan tentang bahaya penyalahgunaan narkoba, kesehatan reproduksi, pencegahan pernikahan dini dan gizi bagi remaja, serta pengetahuan tentang stunting. Selain itu, dengan adanya kegiatan ini remaja dapat meningkatkan kualitas penyiapan berkeluarga dan dapat menjadi anggota Bina Keluarga Remaja dan PIK-Remaja. | ||
Kamis, 07 Maret 2024
Kegiatan Penyusunan dan Pemanfaatan Grand Design Pembangunan Kependudukan (GDPK) Tingkat Kabupaten/Kota
Kegiatan Pemanduan dan Sinkronisasi Kebijakan Pemerintah daerah Provinsi dengan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota dalam rangka Pengendalian Kuantitas Penduduk Sub Kegiatan Penyusunan dan Pemanfaatan Grand Design Pembangunan Kependudukan (GDPK) Tingkat Kabupaten/Kota
Kamis, 22 Februari 2024
Kegiatan Pembinaan Keluarga yang Memiliki Balita Beresiko Stunting
PEMBINAAN KELUARGA
YANG MEMILIKI BALITA BERESIKO STUNTING
Keluarga adalah unit sosial terkecil dalam masyarakat yang anggotanya terdiri dari sekelompok orang yang mempunyai hubungan dan terikat atas dasar pernikahan, keturunan (hubungan darah) atau adopsi (anak angkat) serta tinggal bersama dalam suatu rumah tangga.
Seorang anak tumbuh dan berkembang dalam suatu lingkungan keluarga, maka keluarga menjadi pendidik pertama dan utama yang paling berpengaruh terhadap kehidupan anak. Keluarga merupakan unit masyarakat terkecil yang memiliki kedudukan strategis dalam pengembangan kualitas sumber daya manusia yang mencakup pengembangan kemampuan dalam menghadapi tantangan dan mencegah risiko terhadap masalah disekeliling mereka.
Selain pendekatan siklus daur kehidupan, intervensi stunting saat ini menggunakan pendekatan keluarga. dalam upaya percepatan penurunan stunting , keluarga merupakan komponen utama yang berperan dalam pencegahan terjadinya stunting . peran keluarga ada di setiap daur kehidupan, mulai dari persiapan sejak anak remaja, calon pengantin atau sebelum terjadi pembuahan (prakonsepsi), dilanjutkan masa kehamilan, hingga anak usia 2 tahun , dan diteruskan hingga anak usia 5 tahun dan seterusnya.
Tanggal 20 Februari 2024 bertempat di Ruang Pertemuan Kecamatan Prabumulih Timur, Dinas PPKBPPPA Kota Prabumulih melaksanakan kegiatan Program Pemberdayaan dan Peningkatan Keluarga Sejahtera melalui Pembinaan Ketahanan dan Kesejahteraan Keluarga berupa Penyuluhan tentang Pola Asuh Anak Balita, Pengasuhan 1000 Hari Pertama Kehidupan, dan Bina Keluarga Balita yang diikuti oleh 40 (empat puluh) orang ibu yang memiliki balita dari 127 keluarga miskin dan ekstrim.
Diharapkan dengan adanya kegiatan ini, peserta memiliki pengetahuan tentang pola asuh anak balita, gizi anak balita, dan pengetahuan tentang stunting. Selain itu, dengan adanya kegiatan ini ibu-ibu dapat rutin berkunjung ke Posyandu dan manjadi anggota BKB.






